Pada waktu saya masih kecil, saya sangat merindukan kasih sayang dari ibu saya.    Tapi sayang sekali, sebagai ibu rumah tangga yang sibuk mengurus 6 anak, dia tidak punya waktu atau energi secukupnya untuk anak sulungnya.  Walaupun saya sendiri masih muda, saya harus menanggung banyak tanggung jawab untuk adik-adik saya.  Saya berpikir bahwa saya tidak boleh bicara tentang masalah atau luka hati saya sendiri.  Ibu cukup sibuk mengurus kelima anak yang lain.  Saya menyimpulkan bahwa saya harus menyelesaikan masalah saya sendiri.  Tidak ada orang yang punya waktu atau energi untuk menolong saya.

 

Sewaktu-waktu, jika saya bekerja cukup baik, mungkin ibu saya mengucapkan “terima kasih”.  Itu baik.  Tetapi, itu juga berarti bahwa pada Akhirnya, saya harus melepaskan harapan untuk mendapatkan kasih sayang dari ibu saya, dan mencoba memuaskan diri dengan apa saja yang saya bisa dapat dari dia…yaitu, “terima kasih” untuk pekerjaan yang cukup baik.  Masalahnya, sepertinya ibu saya hanya puas kalau pekerjaan sempurna.  Dia menjadi marah dan kritis kalau pekerjaan tidak dikerjakan sesuai dengan standarnya yang sangat tinggi.  Saya mulai percaya bahwa orang lain akan membenci saya dan memarahi saya kalau saya tidak sempurna.    Jadi, saya belajar menyembunyikan masalah dan kesalahan saya.  Saya bekerja keras dan menjadi cukup berhasil di sekolah.  Saya berusaha sekeras mungkin untuk tidak menyusahkan orang lain.  Saya berusaha memperlihatkan bagian hidup saya yang baik.  Saya juga mulai percaya bahwa ibu saya membenci saya.  Jika ibu saya sendiri membenci saya, pasti saya pantas dibenci.  Saya memikirkan hal  ini terus menerus dan mulai membenci diri saya sendiri juga.

 

Sejak saya bisa membaca, cerita-cerita fiksi menjadi jalan keluar yang saya pakai untuk meninggalkan kebingungan dan kebencian yang saya alami di rumah.  Dengan fiksi, saya bisa masuk ke dalam kehidupan orang lain dan sementara melupakan kehidupan saya sendiri.  Hal ini tidak terlalu buruk waktu saya masih kecil.  Tidak ada apa-apa yang jelek dengan buku-buku yang saya baca.  Tetapi, kebiasaan saya melarikan diri ke fiksi supaya tidak harus merasakan sesuatu yang menyakiti saya menjadi dasar untuk hidup fantasi yang sangat aktif.

 

Waktu saya menjadi lebih dewasa, khususnya pada waktu saya masuk masa puber, kebiasaan saya memakai fantasi sebagai jalan keluar dicampur dengan rasa benci diri.  Fantasi-fantasi menjadi semakin buruk, dengan unsur-unsur kekejaman yang biasanya bersifat seksual.  Fantasi-fantasi ini bisa timbul dalam pikiran saya kapan saja – pada waktu saya sendirian di rumah, di dalam mobil menuju tempat kerja, bahkan sambil mendengar sebuah khotbah di gereja.

 

Masalah saya tidak berakhir dengan fantasi yang buruk saja.  Kadang-kadang, saya mencoba melakukan hal-hal yang kejam yang berputar-putar dalam pikiran saya.  Sambil mengalami rasa sakit, saya juga mendapatkan semacam “kesenangan” yang aneh.  Tidak lama lagi hal ini menjadi semacam “kecanduan” dengan rasa sakit.  “The law of diminishing returns”, sesuatu yang dialami semua pecandu, mulai bekerja.  Ini berarti bahwa hal-hal yang memberi kesenangan pada awal tidak terus memberi hasil yang sama.  Sedikit demi sedikit, saya memerlukan lebih banyak dari hal yang sama  atau sesuatu yang lebih kuat untuk mendapatkan hasil yang sama.  Selama 26 tahun, “kecanduan saya dengan rasa sakit menjadi semakin buruk, bahkan bahaya.  Sepertinya saya tidak bisa bebas dari penjara itu.

 

Selama itu terjadi, saya tahu saya mempunyai masalah yang sangat serius, tapi saya percaya bahwa saya harus mengatasi masalahnya sendiri.  Saya yakin jika seorang lain tahu bahwa sesuatu yang begitu buruk terjadi di dalam hidup saya, mereka akan membenci dan menolak saya.  Saya menjalani hidup saya, bahkan melayani Tuhan dalam pekerjaan gereja.  Pada waktu yang sama, saya masih terkurung di dalam “penjara” kecanduan yang tersembunyi.  Saya menyadari bahwa saya hidup sebagai orang munafik, dan saya frustrasi karena saya tidak bisa membebaskan diri.

 

Syukurlah, Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.  Saya bisa melihat sekarang bahwa Dia melindungi saya selama 26 tahun supaya kecanduan saya tidak berakhir dalam maut.  Tetapi tak ragu lagi, kebiasaan buruk saya pasti berakibat fatal.

 

Tuhan juga menunjuk jalan keluar yang benar untuk saya.  Berulang kali dalam 26 tahun itu, Tuhan mengingatkan saya tentang Yakobus 5:16a.  “…hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh.”  Selama 26 tahun itu, saya pasti mendengar banyak khotbah dari nats itu, tetapi saya menolak suara Tuhan untuk mengaku dosa saya kepada seorang lain.

 

Sampai sekarang, saya terus memakai istilah “masalah” atau “kecanduan”.  Tetapi semua yang saya alami bukan “masalah” saja.  Sebenarnya, itu dosa saya sendiri yang membuat saya hidup dalam “penjara”.  Itu benar bahwa dosa itu berakar dalam luka hati yang sangat dalam, tetapi luka hati itu tidak bisa MEMAKSA saya terjun ke dalam fantasi yang kejam.  Luka hati tidak bisa MEMAKSA saya menyiksa diri.  Pada waktu itu juga, saya tahu semua itu adalah dosa.  Tetapi karena hanya Tuhan dan saya tahu tentang dosa itu, saya berpikir bahwa cukup dengan mengaku dosa kepada Tuhan saja.  Kita bisa menyelesaikan semua itu hanya di antara Dia dan saya, dan orang lain tidak harus tahu.  Saya menyimpulkan bahwa Yakobus 5:16a tidak berlaku bagi saya.

 

Berulang kali, saya mengakui dosa saya kepada Tuhan, tetapi saya terus jatuh ke dalam dosa yang sama.  Kenapa saya tidak bisa bebaskan diri?  Ada banyak ayat dalam Alkitab yang bicara tentang kemenangan dalam Yesus.  Ada ayat yang mengatakan bahwa Tuhan akan memberi jalan keluar kalau kita dicobai.  Di mana kemenangan yang dijanjikan itu?  Di mana jalan keluar?  Jauh di dalam hati saya, saya tahu di mana jalan keluar.  Jalan keluar adalah Yakobus 5:16a.  Tetapi, saya tidak suka jalan keluar yang telah Tuhan sediakan. Saya menolak mengikuti jalan keluar itu.

 

Akhirnya, setelah 26 tahun dalam “penjara” dosa dan rasa benci diri, Tuhan menarik perhatian saya.  Seorang pemuda yang sedang saya muridkan datang kepada saya untuk menceritakan masalah yang sangat besar dalam hidupnya.  Saya tahu saya tidak bisa menolong dia dalam kekuatan saya sendiri.  Tuhan memakai situasi ini supaya saya menyadari keputusasaan saya.  Hanya beberapa jam sebelum pemuda itu datang ke rumah saya, saya telah jatuh lagi ke dalam dosa / “kecanduan” saya.  Saya terpaksa mengaku bahwa saya tidak mungkin bisa menolong pemuda itu mendapatkan kemenangan dan pemulihan dalam Yesus kalau saya sendiri tidak dibebaskan .  Akhirnya, di dalam keputusasaan saya berdoa, “Ya Tuhan, saya tidak bisa terus hidup seperti ini.  Saya HARUS bebas.  Apa saja yang Engkau ingin untuk saya lakukan, saya akan taat.  Saya tidak peduli kalaupun hal itu susah.  Saya hanya tahu satu hal.  SAYA HARUS BEBAS!”

 

Saya bisa membayangkan apa yang terjadi di surga pada waktu Tuhan mendengar doa itu.  Saya membayangkan Tuhan menggelengkan kepala-Nya dan dengan wajah penuh senyum Dia katakan, “Oh anakKu  yang tersayang, Saya hanya minta satu hal dari kamu.  Itu hal yang sama yang saya katakan selama 26 tahun.  Akui kepada seseorang tentang semua itu!”

 

Akhirnya, saya siap menghadapi sesuatu yang menakutkan saya selama 26 tahun.  Tuhan menyediakan seorang mentor yang memimpin saya dalam seri pelajaran Alkitab di internet. Seri itu punya tujuan menolong orang-orang yang bergumul dengan kebiasaan dosa.  Pengakuan dosa adalah unsur yang penting.  Persis pada waktu saya mulai mengakui dosa kepada mentor saya, kekuatan dosa mulai berkurang dan mati.  Tanggapan mentor saya penuh dengan kasih karunia Tuhan.  Dia tidak menghakimi saya atau menjauhkan diri dari saya.  Sebaliknya, dia meyakinkan saya bahwa Tuhan memang mengampuni saya, dan bahwa saya tidak harus hidup lagi di bawah pengaruh rasa bersalah.

 

Empat minggu setelah pengakuan pertama merupakan emapt minggu yang paling susah dalam hidup saya.  Tetapi empat minggu yang sangat susah itu membawa saya ke dalam kemenangan dari dosa yang begitu lama membelenggukan saya.  Sedikit demi sedikit, semua dosa . . . dan banyak luka hati . . . yang sudah lama tersembunyi dalam hati saya dijamah oleh terang kebenaran yang datang dari Tuhan melalui orang-orang lain yang percaya pada-Nya—mentor saya dulu, kemudian beberapa teman yang akrab dengan saya.

 

Apa yang berbeda tentang hidup saya sekarang?  Pertama, kekuatan dosa yang sudah lama mengikat saya telah berkurang sampai hampir tidak ada lagi.  Fantasi-fantasi yang kejam tidak punya kekuatan seperti dulu, dan saya bisa menolak mereka.  Godaan untuk terjun ke dalam “kecanduan” menyiksa diri sudah hilang lenyap.

 

Kedua, sekarang saya mengerti bahwa saya tidak harus mengatasi semua masalah saya sendiri.  Ada orang lain, khususnya orang yang percaya kepada Yesus, yang bersedia menolong saya kalau saya mengaku bahwa saya perlu pertolongan.

 

Ketiga, dan mungkin yang paling penting, orang-orang lain telah mendengar hal-hal yang paling buruk tentang saya dan mereka menanggapi dengan kasih karunia Tuhan.  Melalui mereka, saya mengalami kasih Tuhan yang nyata yang tidak mungkin saya alami selama saya menyembunyikan diri dari orang lain.  Dulu, banyak orang mengenal saya secara dangkal, tetapi saya tidak punya hubungan yang akrab dengan siapapun.  Sekarang, ada beberapa orang yang sungguh-sungguh mengenal saya . . . dan mereka tetap mengasihi saya!

 

Selama 26 tahun, saya menyembunyikan “borok” saya dari orang lain.  Saya tetap menolak untuk membuka hati saya sedikit pun kepada orang lain. Sekarang, saya tidak lagi takut membagi cerita saya.  Memang, sekarang ada perbedaan dalam motivasi untuk bercerita.  Dulu, saya membagi cerita saya dengan mentor saya dan beberapa teman sebagai pengakuan dosa.  Sekarang, saya bisa membagi cerita saya sebagai kesaksian tentang kasih dan kebaikan dan kuasa Tuhan dalam hidup saya.

 

Memang ada kuasa dalam Firman Tuhan.  Bagi saya, Yakobus 5:16a merupakan kunci yang dapat membuka pintu “penjara” supaya saya bisa keluar bebas.  Saya sangat tidak mau tinggal lagi dalam “penjara” yang gelap itu.  Karena kasih dan kuasa Tuhan, sekarang saya bisa hidup dalam kemerdekaan . . . dalam terang!

-Ann-