Saat masa adven seperti ini, saya tertarik dengan sebuah buku tulisan Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives. Buku ini—seperti yang dimaksudkan sang paus—adalah kombinasi antara penelaan dari segi ilmiah dan perenungan untuk memperkaya jiwa kita. Perenungan tentang kebenaran yang kita dapatkan ditindaklanjuti dengan penerapan yang semulia mungkin (“the loftiest of possibilities”) untuk memperkenan hati Allah (“of His good pleasure”).

Pertanyaan dasar yang diajukan adalah darimana Yesus berasal. Paus dengan rendah hati mengingatkan bahwa kita tidak mungkin menjawab pertanyaan ini secara menyeluruh. Di sisi lain, pertanyaan ini begitu penting karena menyingkapkan jati diri dan misi yang diemban-Nya.  Dua hal terakhir ini diuraikan secara bertahap lewat kisah-kisah kelahiran Yesus dalam Injil Matius dan Lukas.

Dari penuturan Matius, silsilah patriarkal Yesus dimulai dari Abraham yang menerima janji Allah, dan berlanjut sampai Raja Daud. Tetapi, pada akhirnya Yesus dikatakan merupakan anak Maria, dan Yusuf adalah suami Maria. Hal ini bukanlah kebetulan. Arti pertamanya, Yesus tetap merupakan bagian dari garis Abraham dan Daud lewat Yusuf. Namun Maria menandakan awal yang baru, yaitu janin yang dibuahi oleh Roh Kudus, dan dengan demikian janji Allah kepada Abraham dan keturunannya digenapi secara universal dalam Yesus yang adalah Anak Manusia sekaligus Anak Allah.

Lukas memulai silsilahnya dengan menekankan bahwa Yesus sudah berkarya sedemikian rupa di tengah masyarakat, lalu menguraikan peristiwa kelahiran-Nya. Kontras dan penangalan yang dituangkan Lukas seputar kelahiran Yesus menegaskan bahwa Yesus hadir pada masa yang bisa disebutkan tarikh dan lokasi geografisnya (“to a time that can be specifically dated and a geographical area that is precisely defined”). Firman (Logos), agen penciptaan segala sesuatu, memasuki dunia agar “ruang dan waktu” ikut serta sepenuhnya dalam penebusan yang riil dalam sejarah. Yesus mewakili umat manusia dan seluruh sejarahnya, serta menentukan ulang arah hidup umat manusia (“decisive re-orientation toward a new manner of human existence”).

Kedua silsilah di atas melengkapi satu sama lain dan menunjukkan bahwa, meskipun kita semua diperanakkan oleh manusia, iman dalam Kristus memungkinkan kita dilahirbarukan oleh Allah.

Berikut ini berkat yang saya dapatkan dari uraian kelahiran Yesus oleh Paus Benediktus XVI:  Pertama, Allah bekerja dalam hidup semua macam orang. Kabar sukacita disampaikan-Nya kepada Maria yang dikategorikan sebagai kaum tak berada, dan tentunya di tengah-tengah rumah yang sederhana saja. Kontras sekali dengan Perjanjian Lama dimana umat bertemu dengan Allah di Kemah Suci dan Bait Suci yang megah dan mencolok. Dilihat dari sudut pandang komunitas Pancaran Anugerah, sahabat-sahabat saya yang luar biasa adalah orang-orang yang Tuhan jumpai dalam kehidupan mereka sehari-hari, yang sampai hari ini sama-sama berproses oleh karena belas kasihan ilahi. Seperti halnya Allah memilih waktu yang tepat untuk kelahiran Yesus, Ia memasuki hidup teman-teman saya pada masa yang seharusnya. Tidak heran, pada diri mereka saya menemukan otentisitas yang tidak saya temukan pada mayoritas orang yang dianggap berpengaruh oleh masyarakat.

Kedua, kabar sukacita surgawi hanya bisa menguasai pikiran dan hati kita apabila kita memanfaatkan kehendak bebas kita dengan benar. Paus menjelaskannya dengan gambaran dari Bernard of Clairvaux: “Setelah orangtua semula kita jatuh dalam dosa, seluruh dunia terbungkus oleh kegelapan di bawah rezim maut. Kini Allah hendak melawat dunia. Ia mengetuk pintu hati Maria… Kuasa-Nya termanifestasi dalam kaitannya dengan kesukarelaan manusia untuk tunduk kepada kehendak-Nya.” Saya tidak pernah berhenti bersyukur atas para mentor dan fasilitator Pancaran Anugerah yang banyak mengubah hidup saya oleh karena mereka rela dituntun oleh Tuhan tanpa memperhitungkan untung-rugi.

Ketiga, berita keselamatan ilahi dicerna dan dihidupi konsekuensinya secara bertahap. Seperti layaknya “Maria masih harus mengemban tugas yang melampaui kemampuan manusia. Maria harus tetap berada di jalan yang menghadapkan dia kepada banyak kesusahan (dark moments), mulai dari keragu-raguan Yusuf akan kandungannya sampai dengan malam menjelang Yesus disalib… Berulang kali Maria harus mengingatkan dirinya akan perkataan Gabriel, “Jangan takut!” Dalam hidup Maria dan hidup kita, hal inilah yang “mendewasakan kedekatan batin kita dengan Allah, sedemikian rupa hingga bisa kita sentuh dan lihat.” Kesembuhan dan pemulihan tidak seharusnya menjadi tujuan utama saya, melainkan diteguhkan oleh Bapa, kembali ke salib dan membuat pilihan dengan tuntunan Roh Kudus, sampai hal-hal ini menjadi semakin alami buat saya.

Keempat, kasih yang sejati bisa saja dibenci. Sebagian pihak menganggap kehadiran maupun kiprah Yesus mengganggu karena tidak sesuai dengan harapan dan/atau agenda mereka (contohnya, Herodes dan pemuka agama Yahudi). Tetapi Allah tidak terkejut. Gambaran yang dipakai Simeon pada saat penyerahan Yesus ke bait Allah adalah Hamba yang Menderita, yang membawa terang ilahi kepada dunia ini, dan menggenapinya dalam kelamnya Salib.” Namun ada pula orang-orang yang menyambut baik kehadiran Yesus. Paus menyimpulkan bahwa orang-orang Majus adalah gambaran untuk mereka yang mencari kebenaran dari masa ke masa, sekaligus menjadi saksi kasih Allah yang mengubah jalannya sejarah dan mempengaruhi alam semesta.

Ada gerakan-gerakan tertentu yang menuduh kekristenan menjajah kemanusiaan. Tetapi, Paus membuat pengamatan yang menarik sebagai antitesisnya. Bintang yang terbit di Timur muncul untuk Yesus, bukan sebaliknya. Padahal, kepercayaan pagan saat itu menganggap nasib manusia ditentukan oleh siklus perbintangan. Hal ini menandakan suat “revolusi antropologis”: “Kodrat manusia dalam benak Allah—sebagaimana yang dinyatakan dalam Putra Tunggal Allah—lebih besar daripada segala kuasa dunia material, lebih besar daripada seisi alam semesta.” Jadi, kemanusiaan lebih dijunjung oleh Allah ketimbang kaum ateis maupun mereka yang memperjuangkan keinginan yang membawa kehancuran dengan mengatasnamakan hak asasi manusia. Walau ruang gerak pelayanan kita semakin ditekan, namun kita tidak akan kehabisan akal dan daya karena perkataan-Nya hidup dan kekal. Akan selalu ada orang-orang yang Tuhan tuntun ke jalan kita untuk dilayani.

Terakhir, kebebasan kita lahir dari kesatuan diri yang utuh dengan kehendak Bapa. Keputusan Yesus memisahkan diri sejenak dari ayah-ibunya pada saat hari raya Pondok Daun tanpa pemberitahuan bukanlah bentuk kekurangjaran, melainkan “pemahaman yang sehat akan kebebasan dan ketaatan… Bukan kebebasan yang berangkat dari imperial / autonomous Self, melainkan kesatuan yang utuh dengan kehendak Bapa… Kebebasan dengan tujuan membantu umat manusia mencapai kebebasan yang bersumber dari keintiman batin mereka dengan Allah.” Integritas dan batasan yang kita bangun sehari-hari dalam pelayanan kita harus senantiasa ditinjau dari kacamata ini. Buahnya adalah kepekaan tentang apa yang harus kita sampaikan, termasuk kapan dan cara menyampaikannya, atau bahkan mengenai kapan kita harus berdiam di hadapan misteri yang belum kita pahami.