Setiap orang dikasihi. Tiap-tiap orang, terlepas dari perasaan atau orientasi seksualnya, sama-sama dikasihi Allah, diundang masuk ke dalam kerajaan-Nya dan dipanggil untuk melayani Dia. Martabat, perihal dicintai, kedewasaan rohani dan keselamatan masing-masing orang sama sekali tidak bergantung pada perasaan atau orientasi seksual yang mereka miliki.

Setiap orang memiliki ketimpangan (broken). Kejatuhan manusia dalam dosa menyisakan berbagai efek pada tubuh, pikiran dan emosi kita. Tiap-tiap orang bergumul dalam kadar tertentu dengan kekurangan dan luka batin dalam hidupnya, baik kaum homoseksual maupun heteroseksual. Hubungan dan seksualitas kita membutuhkan anugerah, hikmat, bimbingan dan pemulihan dari Allah.

Setiap orang mendapatkan panggilan-Nya. Dalam Kitab Suci, Allah menyampaikan kehendak-Nya kepada kita (dalam bentuk hukum, perintah, prinsip moral, catatan sejarah, perumpamaan dsb.) agar kita mengerti cara hidup yang perlu kita jalani sebagai ciptaan-Nya. Allah memanggil kita untuk menyerahkan kehendak kita kepada-Nya dan mempercayai hikmat-Nya, menerima Kristus, yang salib-Nya dianggap bodoh oleh dunia ini (Rm. 12:1-2). Seiring kita memberikan hidup kita sepenuhnya kepada Dia dan menerima Salib dengan sukacita, kita akan mengalami sukacita dan kebebasan yang semakin besar dalam mengikut Dia dan bersekutu dengan Kristus dalam hubungan-Nya dengan Bapa (Flp. 3:10-12).

Bukan kita yang memilih. Sebagian besar perasaan dan orientasi seksual yang spontan merupakan pengalaman fisiologis yang tidak mampu kita kendalikan. Kita tidak bisa begitu saja memilih timbul-tidaknya perasaan seksual tertentu, seperti ketertarikan sesama jenis. Rasa tertarik sesama jenis itu sendiri bukanlah dosa atau menandakan kurangnya integritas moral dan karakter – bahkan dalam konteks pencobaan atau tantangan rohani sekalipun.

Kasih Allah memampukan kita menghadapi pergumulan-pergumulan kita. Masalah yang muncul berulang kali bagi individu dengan ketertarikan sesama jenis dari latar belakang Kristen konservatif adalah: tidak mampu menerima kenyataan adanya perasaan tersebut. Individu dengan ketertarikan sesama jenis amat perlu mengalami kasih dan penerimaan tak bersyarat dari Allah bagi mereka, supaya mereka bisa menerima bagian diri yang tidak bisa mereka ubah, namun memiliki kebebasan untuk mengejar Allah dan hidup menurut kehendak-Nya.

Allah ingin memulihkan anak-anak-Nya. Luka batin yang kita tumpuk dari waktu ke waktu menyimpangkan perasaan kita tentang diri sendiri dan orang lain, mempengaruhi hubungan yang kita miliki dan pilihan hidup yang kita buat. Allah setia mengulurkan pemulihan, rindu menyembuhkan luka batin kita, mengembalikan rasa aman dan rasa dimiliki, dan meneguhkan diri kita dalam kebaikan dan kasih-Nya. Orang-orang Kristen yang bergumul dengan rasa tertarik kepada sesama jenis umumnya terluka, kecewa dan berduka dengan seksualitas mereka.

Allah ingin memperbaiki dan memulihkan hubungan mereka dengan tubuh dan seksualitas mereka sendiri, membantu mereka mengalami diri yang sudah Allah karuniakan kepada mereka.

Allah ingin mendorong pertumbuhan anak-anak-Nya. Heteroseksual ataupun homoseksual, “gay” ataupun straight, Allah mengasihi tiap-tiap orang sama rata sebagai putra atau putri-Nya, dan berkomitmen untuk mendorong kemampuan mereka bertumbuh dalam hal menghormati Dia dan mengasihi sesama secara sepantasnya dengan tubuh mereka. Artinya, perihal terpenting di mata Allah bukanlah orientasi seksual seseorang, melainkan orientasi rohaninya, agar hati mereka tertuju kepada-Nya dan bukan menjauh dari-Nya. Karena, moralitas dan kekudusan bisa dikatakan sebagai perihal menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah, dan mengalami rasa tertarik kepada sesama jenis bukanlah dosa dan bukanlah tanda kurangnya integritas moral ataupun karakter.

Relasi yang berkesinambungan dengan mengubah jati diri kita. Ada banyak hal yang bisa Allah berikan kepada anak-anak-Nya, meskipun jalan pemuridan tidak mudah ditempuh. Semakin banyak orang mengalami Allah, jati diri terdalamnya seringkali terpusat pada keberadaannya sebagai putra atau putri Allah – alih-alih pada perasaannya sebagai seorang homoseksual atau heteroseksual, “Gay” atau straight, dsb. Selain itu, seperti halnya hasrat dan ketertarikan lainnya cenderung berkembang atau berkurang dari waktu ke waktu, pada sebagian orang perjalanan seumur hidup dengan Allah bisa membawa perubahan pada perasaan seksual mereka, termasuk kemungkinan berkurangnya rasa tertarik kepada sesama jenis, dan meningkatnya hasrat seksual terhadap lawan jenis.

Allah menjanjikan kasih dan anugerah-Nya. Allah tidak berjanji untuk menyingkirkan semua pergumulan atau pencobaan yang kita alami dalam hidup ini (1Kor. 12:7b-10). Meski begitu, Ia menyediakan anugerah dan kekuatan yang kita butuhkan untuk bertahan, bersukacita di tengah tarik-menarik yang terjadi, dan menyediakan hubungan baru untuk menggantikan hubungan tak sehat yang kita tinggalkan atau kehilangan teman karena kita mengejar kerajaan Allah (Mat. 10:28-31).

Asal mula ketertarikan terhadap sesama jenis bukanlah isu utamanya. Asal mula homoseksualitas (misalnya bawaan atau asuhan) belum dipastikan secara final lewat penelitian ilmiah, meskipun para ahli sepakat hal ini berkembang dari interaksi antara faktor-faktor biologis dan psikososial (baik bawaan maupun asuhan). Bagaimanapun, penyebab biologis, psikologis dan sosial dari rasa tertarik sesama jenis tidak terlalu berperan dalam menentukan status moral /etis dari praktik homoseksual. Faktor yang mendasar di sini adalah mengenali dan mengejar panggilan dan maksud Allah bagi hidup kita di tengah-tengah kondisi yang kita hadapi.