Nilai – Nilai Penting Dalam Pancaran Anugerah

Pendahuluan

Saya mendapat berkat dari tulisan Dave (rekan pelayanan saya) dalam buletin bulan Juni 2013 tentang “Boutique Hotel.” Saya sedang membaca buku yang judulnya “Small Giants” (Raksasa-raksasa kecil). Buku ini mendiskusikan tipe organisasi yang unik. Tipe organisasi raksasa kecil ini berbeda cara kerjanya daripada tipe yang “tumbuh pesat dan buka cabang sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya”, seperti Toyota, Nestle, Indomaret-Alfamidi, dll. Organisasi raksasa kecil adalah raksasa dalam pengaruhnya tapi kecil dalam ukuran dan strukturnya.

Etos kerja organisasi raksasa kecil adalah berorientasi pada keintiman dan individu. Mereka membatasi fokusnya pada keunikan visinya. Mereka fokus pada relasi yang baik di antara para staf, pemimpin dan pelanggannya. Raksasa kecil menghindari pertumbuhan yang cepat sehingga dapat mempertahankan kontribusi yang berkualitas tinggi dan berintegritas kepada komunitas.

Apakah Anda suka melakukan perjalanan? Anda mungkin memperhatikan ada jenis “hotel boutique” (seperti Tugu hotel) tempat langganan mantan presiden Megawati dan jenis hotel yang bertumbuh cepat (seperti Harris, Swiss Bell, dll). Boutique hotel memperlakukan tamu-tamunya dengan sangat khusus, perhatian personal kepada setiap tamu, mementingkan service yang memuaskan. Sedangkan hotel pasaran akan sulit memberi perhatian khusus karena tamunya yang sangat banyak.

Inilah yang kita kembangkan dalam Pancaran Anugerah. Kita adalah “boutique ministry”. Kita bukan pelayanan yang berkembang dengan cepat dan besar, yang membuka banyak tim di setiap kota per tahun. Namun kita memiliki sesuatu keunikan, berharga, dan sangat pribadi untuk ditawarkan kepada jiwa-jiwa dan gereja-gereja di Indonesia.

Kita berfokus untuk membangun para pemimpin. Kita fokus pada individu/pribadi dan relasi-relasi dengan Allah dan sesama. Kita menekankan kejujuran, anugerah dan penerimaan. Kita hendak berjalan dengan berintegritas dan efektif.

ü  Pertanyaan interaktif:

Apa yang membawa Anda tertarik/terpanggil untuk bergabung dengan pelayanan Pancaran Anugerah? Nilai-nilai apa dalam pelayanan ini yang menarik Anda?

ü  Sharing pribadi: Yang menarik saya join dengan pelayanan PanAn

Kerinduan saya untuk memiliki hubungan intim dengan Tuhan saya dapatkan; mulai dari saat dibukakan penghalang hubungan saya dengan Tuhan yaitu “berhala” saya yaitu mencari kasih dari para pria yang dekat dan pernah jadi pacar saya. Sejak saya bertobat menyerahkan berhala saya kepada Tuhan, sehingga hubungan saya dengan Tuhan menjadi lebih nyata, saya dapat menerima kasih Allah dalam hati saya. Nilai penting tentang membawa setiap pribadi untuk memiliki relasi pribadi yang intim dengan Tuhan, itu menjadi daya tarik yang utama bagi saya.

 

  • Experiential learning: saya tumbuh dalam keluarga Kristen dan pengajaran Alkitab yang kuat dari latar belakang Injili, namun sangat minim pengalaman pribadi dengan Tuhan. Dalam pelayanan ini, saya belajar melalui praktek: keterbukaan dalam kelompok, mendengarkan suara Tuhan dan belajar merespons, belajar beberapa metode berelasi dengan Tuhan misalnya di Recharge tentang Lectio Divina, doa kontemplasi, hening, kontemplasi melalui lukisan.
  • Keterbukaan dalam komunitas – menolong saya keluar dari penjara kesepian saya.
  • Batasan: belajar gaya hidup yang lebih seimbang dengan menerapkan batasan; isu jati diri dan keseimbangan antara menerima dan memberi dalam relasi dengan orang lain.

 

Definisi/Pengertian Values:

“Keyakinan yang penting dan abadi yang dibagikan di antara anggotanya tentang apa yang baik atau buruk, yang dikehendaki atau tidak. Nilai-nilai memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan sikap anggotanya dan disajikan sebagai penuntun yang luas dalam segala situasi.”

Budaya Organisasional

Nilai-nilai dan perilaku-perilaku yang memberi sumbangsih terhadap keunikan lingkungan sosial dan psikologikal dari suatu organisasi.

Budaya organisasional termasuk harapan-harapan organisasi, pengalaman, filosofi, dan nilai-nilai yang menyatukannya, dan diekspresikan dalam gambaran diri, cara kerja internal, interaksi dengan dunia luar, dan harapan-harapan ke depan.

 

Nilai-nilai (menurut Christ Akins):

Nilai-nilai adalah dasar dari perilaku dan motivasi kita, Nilai-nilai adalah konsep-konsep yang abstrak, bersifat hierarki dan dinamis, yang menjabarkan apa yang kita inginkan untuk dicapai.

Point penting dalam the circle of needs – sisi vertikal (Relasi dengan Allah) dan horizontal (Komunitas).

Simbol: SALIB

Sisi Vertikal:

ü  Christ Center

ü  Firman Tuhan

ü  Karya Roh Kudus

ü  Salib

ü  Keintiman (Disiplin Rohani)

ü  DOA

ü  Pengudusan (PROSES)

ü  Pengalaman/ heart level

ü  Pemuridan – menjadikan orang murid Kristus

Sisi Horisontal: Akronim dari kata KOMUNITAS

K – ETERBUKAAN

O – TENTIK

M – EN & WOMEN

U – TUH, HOLISTIK

N – ATURAL GROWTH (PROSES)

I – NTEGRITAS, INTERDENOMINASI, INTIM (RELASIONAL)

T – IM (Tubuh Kristus)

A – MAN

S – TORY, SHARE LIFE

Satu istilah bagi kita yang melayani di Pancaran Anugerah:

Wounded Healer – Orang yang Pernah Terluka, yang kemudian Menyembuhkan!

Pelayanan Pancaran Anugerah adalah pelayanan yang menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini. Nilai yang dibangun dalam pelayanan Pancaran Anugerah menjadi tanda bahwa Kerajaan Allah telah hadir di muka bumi.

Aplikasi dalam Tim:

  1. PanAn adalah pelayanan proses dan mendalam – yang melayani pribadi-pribadi dan area hati. Kami menekankan kualitas daripada kuantitas – ilustrasi seperti hotel boutique daripada franchise. Kami mementingkan nilai-nilai pelayanan yang ramah/hangat dan terbuka, integritas, kualitas. Oleh karena itu, menjaga relasi yang akuntabel dan terus berproses menjadi penting.
  2. Kita tidak mementingkan kesempurnaan atau pun hasil yang “wah” (bukan untuk performance). Namun prinsip kita sederhana, sesuai kapasitas dan kemampuan kita namun bisa sampai di hati orang-orang yang dilayani, serta dilakukan dengan sepenuh hati.
  3. Pertimbangan utama dalam pelaksanaan program adalah kesiapan koordinator/tim yang melayani. Mungkin ini bisa memperlambat pelaksanaan program, namun kita tidak memaksakan adanya program formal, namun kami lebih memberi waktu mempersiapkan coordinator dan tim, dan bergerak sesuai kesiapan mereka.

 

  1. Pelayanan tim – antara pria dan wanita berdampingan melayani bersama. Kita saling melengkapi dan saling menolong serta saling menghargai kelebihan-kelebihan serta tidak menonjolkan kelemahan-kelemahan di antara kita.
  2. Kita mementingkan gaya hidup sehat – keseimbangan dan keutuhan diri antara pelayanan, keluarga, pertumbuhan pribadi yang sehat serta relasi yang sehat dengan orang lain serta keintiman dengan Tuhan.
  3. Pemimpin yang punya sikap seorang murid, yang mau belajar seumur hidup. Para pemimpin yang memiliki kerinduan untuk bertumbuh secara terus menerus, berproses secara internal, dan berkembang sebagai pribadi yang terbuka untuk belajar; baik melalui membaca buku, mengikuti seminar, mengikuti training dan mentoring.
  4. Dalam kerjasama – Saling Mengasah. Setiap kita memiliki cara berpikir dan kepribadian yang berbeda-beda, bahkan proses pemulihan yang tahapannya berbeda-beda. Kita mau belajar saling menerima, dan saling mengingatkan serta saling menolong untuk pertumbuhan kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dan utuh.
  5. Menerapkan batasan sebagai manusia yang terbatas. Belajar menjadi diri sendiri – mencakup keterbukaan dan keberanian mengungkapkan diri kita apa adanya tapi juga belajar tetap menghargai pihak yang lain; saling mengampuni jika ada kesalahan; berani menolak dan berkata tidak dengan sopan; tidak bergosip tapi langsung bicara dengan orang yang bersangkutan. Saya rindu ini semua bisa kita terapkan dan menjadi budaya Kristiani yang sehat dalam pelayanan dan interaksi di antara kita bersama. Agar kita mengalami kebenaran tentang “besi menajamkan besi, dan manusia menajamkan sesamanya”.

 

Jakarta, 26 Juni 2018

Shelfie Tjong

Executive Leadership Team