Setelah melalui perjalanan rohani sekian lama, setiap kita berjuang untuk mematahkan kuasa dosa atas hidup kita, terutama di saat pencobaan memengaruhi pikiran dan perasaan kita untuk berbuat dosa.  Kita telah berusaha dengan berbagai cara untuk mengalahkan dosa; bersabar ketika merasa marah dan kecewa terhadap orang yang melakukan kelalaian kerja, orang yang menjengkelkan, dan orang yang menyakiti hati kita. Kita mencoba mengatasi kecanduan games, pornografi, masturbasi, makan berlebih, dan lain-lain dengan cara-cara kita sendiri. Namun, kita kembali terjebak, dan menjadi lelah secara mental hingga ujung-ujungnya kita menyalahkan diri, merasa sendirian dan kesepian. Kita tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam perjuangan tersebut.

Pertanyaannya, benarkah Tuhan tidak hadir? “Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak mendengarkannya” (Ayub 27:14). Kita cenderung terdistraksi pada kebisingan dalam diri, dan sibuk mencari pelarian untuk mengalihkan perhatian. Kita melakukan berbagai kesibukan yang makin melelahkan jiwa dan batin kita. Saat kita menjadi lelah dalam perjuangan yang tak habis-habisnya, kita mulai meyakini bahwa kita memang lemah, tidak mampu menghadapi manusia lama kita sekalipun terus berusaha keras. Hati kita mulai bertanya, “Apakah saya harus menyerah dan berhenti saja? Mengapa Tuhan diam? Di manakah Tuhan saat saya menghadapi pergumulan seperti ini?” Kita mempertanyakan diri sendiri, juga mempertanyakan kehadiran Tuhan.  

Apakah Anda mengenal Roh Kudus, Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal, yang diutus oleh Bapa dan Anak untuk berdiam di dalam kita? Roh Kudus diberikan ke dalam hati kita untuk “memberi warna dan rasa” pada jati diri kita secara menyeluruh. Roh Kudus meresap ke setiap segi kehidupan kita, dan tinggal di dalam kita sebagai penolong dan pembela kita (Yoh. 14:16-18). Ia sangat peduli pada kita dan memampukan kita berperang mengalahkan dosa (Rm. 8:12-14). Apakah Anda mengalami karya Roh Kudus dalam kehidupan Anda?

Saya mengalami bagaimana Roh Kudus pernah membangunkan saya pada pk. 02:30 untuk memberitahu tentang perasaan marah saya kepada seseorang. Secara tidak sadar, saya telah memakai ”strategi” sendiri menghadapi situasi tersebut, tetapi Roh Kudus dengan lembut menolong saya menyadari bahwa saya telah menyimpan rasa marah berbulan-bulan lamanya, dan telah meluapkan emosi saya dengan cara yang menyakitkan orang lain.  Peringatan lembut Roh Kudus menyadarkan saya, menyentuh nurani yang menyesal dalam tangisan, serta memohon pengampunan-Nya. Hati saya mulai diubahkan, dan dimampukan untuk menaati dan melakukan apa yang Tuhan inginkan.  

Ketika kita hanya terfokus pada luka dan rasa sakit yang kita alami, kita menjadi sulit mendengar Tuhan berbicara kepada kita. Namun, Roh Kudus yang tinggal di dalam kita senantiasa berbisik lembut, dan menolong kita peka mengenali pikiran dan perasaan kita yang menyimpang dari kebenaran. Sebab Roh Kudus mengetahui secara tepat apa yang ada dalam batin kita, dan Dialah yang menolong kita menyelaraskan pikiran, perasaan dan keinginan kita seperti Kristus.

Ketahuilah bahwa “Tuhan membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran untuk menghalangi manusia dari perbuatan yang menyimpang, melenyapkan kesombongan orang….” Roh Tuhan dapat “menyadarkan manusia melalui mimpi, penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, dan bila berbaring di atas tempat tidur” (Ay. 27:14-17) atau berbagai cara lain yang dikehendaki-Nya. Suatu malam saya bermimpi tentang seorang asing yang berusaha masuk ke dapur rumah kami melalui jendela yang terbuka. Dalam mimpi itu saya diliputi ketakutan, tetapi entah bagaimana saya berani mengusirnya. Saat terbangun, mimpi itu terus mengusik hati saya. Dalam saat teduh, firman Tuhan menguatkan saya: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membinasakan.” Saya menyadari Roh Kudus sedang mengajak saya berjaga-jaga secara mental dan emosional karena ada situasi yang akan menguji luka lama dan respons hati saya. Beberapa waktu kemudian, saya mengalami hal yang menjawab mimpi itu. Undangan untuk menjadi pembicara dalam sebuah konferensi dibatalkan tanpa penjelasan di awal, dan luka penolakan hampir mendorong saya batal mengikutinya sebagai peserta. Namun, Roh Kudus mengingatkan saya untuk tidak membiarkan “pencuri” merusak relasi dan pelayanan saya.  Dalam anugerah-Nya, Roh Kudus memampukan saya memilih untuk merendahkan hati, dan tetap hadir sebagai peserta. Di konferensi itulah saya justru dipakai Roh Kudus untuk berdoa, menguatkan, dan melayani para pemimpin wanita di sana. Pengalaman ini meneguhkan saya bahwa ketika kita melepaskan ego dan berserah diri kepada bimbingan Roh Kudus, Ia sanggup membalikkan situasi yang melukai menjadi ruang pemulihan dan berkat, jauh melampaui apa yang dapat kita capai dengan kekuatan sendiri.

Bapa yang baik ingin membimbing kita melalui Roh Kudus-Nya untuk mengenali dan menghadapi realita kelemahan diri, memiliki kerelaan memutuskan hal-hal yang mengikat dan menjauhkan kita dari Allah. Roh Kudus memberdayakan kita untuk berdiri, berjuang menjalaninya, dan mengalami kemenangan. Maukah Anda melangkah bersama Roh Kudus?

Oleh: Ingrid I. Limanta

Referensi: Pedoman Living Well Bab 5