Firman Tuhan pada 1 Korintus 6:19-20 mengatakan: “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Apakah Anda bersyukur atas tubuh Anda? Mungkin reaksi jawaban spontan kita adalah ya, tetapi sebenarnya itu adalah pertanyaan yang rumit untuk dijawab bila kita ingin benar-benar jujur. Sam Allberry di dalam salah satu bukunya mengatakan, “Karena kita hidup di dunia yang diciptakan, tubuh kita adalah anugerah. Namun karena kita hidup di dunia yang penuh dosa, tubuh kita mungkin bukan anugerah yang kita inginkan.”
Sejak umur 4 tahun, karena kelalaian seorang dokter menuliskan resep obat untuk saya akhirnya saya mengalami over dosis dan membuat kaki kiri saya menjadi lumpuh sampai saat ini. Saya membutuhkan proses perjalanan pemulihan yang sangat panjang untuk bisa menerima kelemahan kaki saya. Jadi, sejak kecil saya sudah menyandang disabilitas, tetapi ibu saya selalu ingin saya bisa melakukan semua kegiatan sama seperti yang orang lain lakukan dengan sempurna. Selama puluhan tahun saya selalu hidup memaksakan diri saya sendiri. Ketika saya mulai aktif dalam pelayanan, hal ini tidak berubah; terlebih dengan konsep diri yang rendah dan kesalahan saya mengintepretasikan ayat-ayat untuk melakukan pelayanan dengan membayar harga hingga saya mengabaikan apa yang tubuh saya rasakan.
Sering kali kita lupa bahwa Tuhan menciptakan kita manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh yang serupa dengan gambar Allah. Tubuh kita bukanlah gumpalan materi yang sembarangan, tetapi diciptakan dengan memiliki arti. Tubuh kita tidak berada di luar pemahaman kita tentang siapa kita. Tubuh kita sama pentingnya dengan “roh” dan “jiwa” kita. Tubuh itu penuh kasih, bertujuan dan baik. Namun saat dosa memasuki dunia, dosa memengaruhi tubuh kita. Kita bisa jatuh sakit, terluka, menjadi tua, dan meninggal dunia. Tubuh kita tidak terlihat atau terasa seperti yang kita inginkan. Lebih jauh, tubuh kita juga mengalami rasa sakit yang disebabkan oleh dosa-dosa tubuh lain. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan kita untuk memisahkan tubuh kita dari ‘diri’ kita.
“Betapapun kita mungkin lebih mengutamakan pikiran atau jiwa daripada tubuh sebagai diri kita yang “sebenarnya,” kita tahu jauh di lubuk hati bahwa tubuh adalah bagian penting dari siapa kita sebenarnya. Ketika orang menyakiti tubuh Anda, Anda tahu bahwa mereka tidak hanya merusak sebagian harta benda Anda; mereka telah menyakiti Anda. Apa yang Anda lakukan pada tubuh seseorang, Anda lakukan pada orang lain“ (Sam Allberry, What God Has to Say About Our Bodies).
Sejak saya memulai perjalanan pemulihan saya pada tahun 2008, saya lebih banyak belajar bagaimana merasakan perasaan saya dibanding merasakan sensasi tubuh saya. Namun, sejak saya memulai proses terapi trauma, saya mulai belajar mendengarkan tubuh saya karena saat terapi sering kali yang muncul pertama bukan perasaannya, melainkan apa yang saya rasakan di tubuh saya seperti rasa mual, tegang di bagian leher, dingin di lengan bahkan sakit di kepala. Seiring dengan waktu akhirnya saya dapat membedakan jika saya sakit karena terkena virus atau karena psikosomatis. Psikosomatis adalah kondisi saat masalah emosional atau psikologis memengaruhi kondisi fisik kita, misalnya karena stres atau cemas.
Ada dua hal yang saya pelajari dan lakukan selama perjalanan pemulihan saya, yaitu
- Self-Care
Self-Care bukanlah selfish (egois). Pada dasarnya, self-care adalah serangkaian kegiatan yang dapat meningkatkan energi positif dalam diri agar dapat berfungsi dan bisa produktif, baik itu bagi fisik maupun psikis. Dalam iman Kristen, self-care atau perawatan diri adalah penting, bukan sebagai kesombongan, melainkan bentuk tanggung jawab dan penatalayanan atas pemberian Tuhan, termasuk tubuh dan pikiran kita, untuk dapat melayani Dia dan sesama dengan baik.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai self-care dalam perspektif Kristen:
- Perawatan diri sebagai tanggung jawab pribadi: Alkitab menekankan pentingnya menjaga tubuh kita, karena tubuh adalah bait Roh Kudus.
- Perawatan diri yang seimbang: Self-care yang seimbang mencakup kebutuhan fisik, emosional, rohani, dan sosial.
- Perawatan diri yang berakar pada kasih Tuhan: Kita merawat diri kita karena kita dicintai dan diciptakan oleh Tuhan, dan kita ingin melayani Dia dengan baik.
- Perawatan diri yang tidak egois: Self-care bukan hanya tentang diri sendiri, melainkan juga tentang bagaimana kita dapat melayani orang lain dengan lebih baik.
Berikut adalah beberapa contoh dari self-care:
- Istirahat: Tuhan memberikan contoh istirahat setelah penciptaan, dan kita juga perlu beristirahat. Sabat adalah salah satu cara beristirahat yang Tuhan ajarkan bagi kita. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk kita memiliki hari sabat agar kita dapat beristirahat. Waktu tidur yang cukup juga merupakan bagian dari merawat diri kita.
- Makan dan minum yang sehat dan secukupnya: Kita harus makan dan minum untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Saya belajar untuk memperhatikan makanan yang tidak baik bagi tubuh saya dan menghindari mengonsumsinya. Mengambil waktu untuk berpuasa juga bisa menjadi bagian dalam merawat diri karena seperti yang disampaikan oleh banyak ahli kesehatan bahwa puasa berdampak baik bagi tubuh kita.
- Menjaga kesehatan mental dan hubungan: Kita harus menjaga kesehatan mental kita dengan berdoa, membaca Alkitab, dan berinteraksi dengan orang lain. Kita harus menjaga hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.
- Menerima Keterbatasan Diri
“Tidak ada manusia yang sempurna.” Kalimat ini sering kita dengar dan terkesan klise. Sering kita mengatakannya, tetapi kenyataannya saya sendiri mengalami bagaimana sulitnya menerima keterbatasan diri saya karena saya selalu mau menjadi orang yang sempurna. “Sempurna” seperti dalam imajinasi atau sesuai dengan saya pikirkan atau sesuai dengan standar budaya tentang manusia sempurna. Seperti yang saya ceritakan di awal bahwa saya menderita lumpuh di kaki kiri saya sehingga saya perlu menggunakan kruk (tongkat) untuk berjalan, sangatlah jauh dari standar sempurna yang saya tahu dan saya pikirkan selama ini. Namun saya bersyukur karena kebaikan Tuhan, akhirnya saya bisa menerima keterbatasan diri saya yang jauh dari sempurna ini. Melalui terapi, konseling dan latihan tubuh untuk melepaskan ketegangan dan trauma, saya banyak belajar mendengarkan tubuh saya. Saya tidak lagi memaksakan diri bila saya merasa tidak sanggup melakukan suatu hal atau bila saya mulai merasa cemas (panik) karena jadwal yang terlalu padat. Saya akan mengambil waktu untuk menenangkan diri dan beristirahat agar saya merasa tenang kembali dan bisa melakukan kegiatan selanjutnya. Saya juga bisa menerima kalau saya tidak multi-tasking dan bisa menerima bantuan orang lain karena buat saya dulu sangat sulit untuk menerima bantuan orang lain.
Tuhan Yesus berkata dalam Matius 22:39, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini berarti bahwa jika kita ingin mengasihi sesama kita tanpa syarat dan dengan murah hati, kita juga perlu mengasihi diri kita sendiri dengan cara yang sama! Tuhan tidak menciptakan manusia bak sampah tak berguna. Kebenarannya adalah kita diciptakan menurut gambar Allah; kita adalah mahakarya-Nya! Sebagaimana ditulis oleh Sam Alberry, “Ketika kita meremehkan orang lain karena bentuk fisik mereka, kita tidak hanya meremehkan mereka, tetapi juga meremehkan Tuhan yang menciptakan mereka menurut gambar-Nya.” Mari kita mengasihi dan menghargai sesama kita, sebagaimana kita mengasihi dan menghargai diri kita sendiri, sebagai mahakarya Sang Pencipta Agung.
Saya hendak mengakhiri tulisan ini dengan beberapa kutipan untuk direnungkan:
“Dosa tidak hanya salah dalam beberapa pengertian abstrak. Dosa salah karena bertentangan dengan cara hidup yang Tuhan inginkan. Tidak semua dosa secara langsung dan segera berbahaya dengan cara yang jelas bagi semua orang. Banyak dosa yang lebih halus. Namun, dosa dapat membawa kita ke arah yang mungkin tidak pernah kita inginkan, dan sekarang kita melakukan hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan dan mendapati diri kita merasa tidak berdaya untuk berhenti melakukannya” (Sam Allberry).
“[Yesus] tahu apa artinya haus, lapar, dihina, ditolak, dicemooh, dipermalukan, ditinggalkan, disalahpahami, dituduh secara salah, dicekik, disiksa, dan dibunuh. Dia tahu apa artinya kesepian” (Dane Ortlund).
EM, April 2025

