Di antara semua relasi, mungkin relasi orang tua—anak adalah relasi yang paling kuat dan paling sulit berubah. Itu sebabnya, jika kebetulan relasi tersebut merupakan relasi yang buruk, dampak buruknya pun cenderung bertahan untuk waktu yang lama. Sebaliknya, bila relasi itu sehat, dampak positifnya pun bertahan untuk waktu yang lama.
Salah satu dampak positif relasi orang tua—anak yang sehat adalah timbulnya RASA AMAN di dalam diri anak. Dengan perkataan lain, di dalam relasi orang tua—anak yang tidak sehat, kecemasan akan kerap timbul di dalam diri anak.
Setidaknya ada DUA JENIS kecemasan yang acap kali dialami oleh anak. PERTAMA adalah kecemasan yang bersumber dari KETAKUTAN. Jika relasi orang tua tidak harmonis dan sarat konflik, anak akan terbiasa hidup dalam ketegangan. Pada umumnya, kecemasan yang bersumber dari ketakutan melahirkan dua perilaku yang ekstrem:
- PERTAMA, anak akhirnya bertumbuh menjadi seorang yang PEMARAH. Ia cepat tersulut dan sulit mengendalikan emosi. Ada kecenderungan ia juga kerap mengalami AYUNAN EMOSI—mudah marah, mudah reda.
Pada dasarnya ia mudah marah karena cepat menyimpulkan bahwa orang SENGAJA membuatnya marah atau menuduh orang TIDAK MENGHORMATINYA atau menghargainya.
Sebenarnya, ia mudah tersulut karena KETEGANGAN yang tersimpan di dalam jiwanya. Ketegangan itulah yang membuatnya cepat bereaksi terhadap apa pun yang ditafsir sebagai PENAMBAH ketegangan.
- KEDUA, anak menjadi TIDAK TAHAN bersinggungan dengan ketegangan. Namun berbeda dari penjabaran di atas, anak ini tidak mengungkapkan kemarahannya keluar, tetapi malah memendamnya. Singkat kata, kecenderungannya adalah MELARIKAN DIRI dari ketegangan dan berupaya mencari ketenangan.
JENIS KECEMASAN YANG KEDUA adalah kecemasan yang berhulu dari TUNTUTAN. Kita mafhum bahwa tidak ada kasih dan penerimaan tanpa syarat. Bahkan penerimaan orang tua terhadap anak pun bersyarat.
Ada orang tua yang berharap tinggi, menyebabkan anak sering gagal mencapai tuntutan dan membuatnya menganggap diri sebagai kegagalan—tidak memenuhi syarat! Ia senantiasa merasa dievaluasi dan malangnya, hasil evaluasi selalu buruk. Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa ia bukanlah orang yang cukup baik; sebaliknya, ia merasa diri buruk.
Kecemasan yang berasal dari tuntutan membuat anak RAGU akan kemampuannya dan takut untuk mengambil inisiatif karena ia takut salah, takut gagal, dan takut menderita malu. Jadi, pada akhirnya hidup merupakan sebuah usaha untuk MENJAUH dari kemungkinan gagal dan menanggung malu.
Apa pun sumber kecemasan—ketakutan ataupun kegagalan memenuhi syarat—pada akhirnya keduanya membuat anak merasa tidak aman. KECEMASAN MENGHILANGKAN KETENTERAMAN! Ia terpaksa berjaga-jaga untuk memastikan bahwa ia tidak dalam keadaan terancam. Sering kali tindakannya merupakan REAKSI terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
Langkah Pemulihan dari Kecemasan
Ada langkah yang mesti diambil untuk pulih dari kondisi ini, tetapi sebagai langkah pertama, firman Tuhan sudah memberitahukan caranya secara jelas, “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskanku dari kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu” (Mazmur 34:5-6).
Firman Tuhan menegaskan bahwa hanya ada satu cara untuk dapat lepas dari kegentaran, yaitu mencari Tuhan. Kita tidak boleh mengalihkan pandangan ke manusia atau ke hal lain; kita harus mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan. Dengarkan suara-Nya dan ikuti panduan-Nya, maka Ia akan menuntun hidup kita.
Berdasarkan Mazmur 34:5-6, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk memulai proses pemulihan dari kecemasan. Ada dua kata perasaan yang termaktub dalam ayat ini, “kegentaran” dan “malu tersipu-sipu.” Dua kata ini berhubungan erat dengan pembahasan kita tentang kecemasan yang bersumber dari KETAKUTAN dan TUNTUTAN.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah kita perlu MENGAKUI KEGENTARAN KITA. Untuk itu kita perlu menengok ke dalam dan melihat apa yang sesungguhnya kita rasakan. Pada akhirnya kita mesti bersentuhan dan mengakui bahwa di balik kemarahan, tersembunyi ketakutan. Di balik ketakutan, tersembunyi ketegangan. Di balik ketegangan, tersembunyi kehancuran (keluarga).
Langkah kedua adalah MENCARI TUHAN. Artinya, kita perlu menjadikan Tuhan sebagai jawaban akhir dan sempurna. Pertolongan yang lain adalah sarana semata, pemulihan sejati hanya dapat dikaruniakan oleh Tuhan. Kita mencari Tuhan LEWAT HIDUP DALAM FIRMAN-NYA DAN HADIRAT-NYA. Kita hidup dalam hadirat-Nya dalam pengertian kita terus berusaha menaati kehendak-Nya. Walaupun tidak selalu kita mengerti alasan mengapa Ia meminta kita melakukan sesuatu, tetap lakukanlah. Biarlah pengertian datang menyusul kemudian dan biarlah ketaatan total menjadi lokomotif penggerak hidup.
Langkah berikut adalah MENUJUKAN PANDANGAN PADA TUHAN. Pemazmur berkata, hasil akhir dari menujukan pandangan pada Tuhan adalah wajah berseri-seri dan kita tidak lagi malu tersipu-sipu. Untuk dapat terus memelihara pertumbuhan, kita harus MEMPERSEMBAHKAN SEMUA PERBUATAN KEPADA DAN UNTUK TUHAN. Kita perlu mengingatkan diri bahwa apa pun itu yang kita perbuat, kita perbuat bagi Tuhan.
Pertanyaan kita perlu diubah perspektifnya dari, “Apa yang ORANG akan katakan?” menjadi, “Apa yang TUHAN akan katakan?” Singkat kata, sekarang bukanlah lagi manusia yang mengevaluasi, melainkan Tuhan yang mengevaluasi diri kita. Kita tidak berkeberatan “gagal” di mata manusia selama kita “berhasil” di mata Tuhan. Kita mengedepankan “malu” di hadapan Tuhan sebagai panduan hidup, bukan malu di hadapan manusia.
Untuk dapat hidup seperti ini, diperlukan perombakan NILAI KEHIDUPAN. Apa yang dihargai Tuhan, itu yang menjadi nilai hidup kita. Apa yang tidak penting bagi Tuhan, itu tidak lagi penting bagi kita.
Ya, makin sering dan makin lama kita memandang Tuhan, perlahan tetapi pasti, nilai dan isi hati Tuhan akan mulai menyinari kita pula dan akhirnya terserap masuk menjadi serat baru yang membangun diri kita. Hanya di dalam relasi yang seperti inilah, maka wajah yang suram akan kembali berseri-seri dan muka yang malu tersipu-sipu akan kembali mekar tersenyum.
Ringkasan dari Artikel Anxiety: Sumber dan Dampak oleh Paul Gunadi
Pertanyaan Refleksi:
- Jika Anda melihat kecemasan Anda, apa yang menjadi sumbernya: ketakutan atau tuntutan?
- Apakah hubungan kedua orang tua Anda turut memberi pengaruh bagi Anda? Seperti apa dampaknya bagi Anda?
- Bagaimana cara Anda selama ini mengatasi kecemasan Anda?
- Berdasarkan Mazmur 34:5-6, apakah ada langkah-langkah konkret yang Anda hendak terapkan dalam mengatasi kecemasan?

