Saya ingin membahas bersama Anda salah satu dari tiga pencobaan yang dihadapi Yesus selama masa pengasingan-Nya di padang gurun. Setiap pencobaan tersebut mengungkapkan hal yang mendalam tentang ujian yang kita hadapi dalam hidup kita. Dalam pencobaan pertama ini adalah untuk menjadi relevan.

Setelah Yesus berpuasa selama empat puluh hari, Matius menceritakan bahwa pencobaan datang kepada-Nya dan berkata, “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu-batu ini menjadi roti” (Matius 4:3). 

Henri Nouwen menyatakan bahwa pencobaan pertama yang dihadapi Yesus adalah untuk menjadi relevan. 

“Ubah batu-batu ini menjadi roti,” usul Setan. Tunjukkan kepada dunia bahwa Engkau memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Lakukan sesuatu yang membuktikan nilai dan arti diri-Mu. Setan mencobai Yesus untuk melakukan sesuatu agar dunia tahu Dia relevan, tetapi dengan mengorbankan ketaatan kepada Bapa-Nya. Kita harus memilih antara ketaatan dan popularitas—sebuah persimpangan jalan. Meskipun keduanya tidak selalu bertentangan, kita harus menyadari bahwa kita tidak selalu bisa memiliki keduanya. 

Setan mencobai kita untuk menempatkan nilai dan harga diri kita pada apa yang bisa kita tawarkan kepada dunia. Bakat, kemampuan, dan apa yang bisa kita lakukan dan hasilkan. Kita tergoda untuk membuktikan diri kepada dunia melalui prestasi atau kinerja kita. Seseorang baru-baru ini berkata, “Kamu hanya sebagus kinerja terakhirmu.” Betapa melelahkannya membuktikan nilai kita dengan cara ini!

Penderitaan menguji kita untuk menentukan di mana kita menempatkan nilai dan harga diri kita. Ketika kesulitan datang, itu menjadi waktu untuk menguji diri apakah identitas kita berakar pada apa yang kita lakukan atau jati diri sejati kita sebagai anak-anak kekasih Allah?

Namun, tanggapan Yesus sungguh luar biasa. Dia tidak berdebat tentang apakah Dia bisa mengubah batu menjadi roti. Sebaliknya, Dia menunjuk pada hal yang lebih mendasar, yaitu ketergantungan pada Allah. “Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Kita telah melihat bahwa Allah menggunakan cobaan untuk menjadikan kita lebih seperti Yesus. Jadi, bagaimana kita bekerja sama dengan proses ini?

Yesus menunjukkan kepada kita tiga disiplin rohani yang membentuk-Nya selama masa pengasingan-Nya di padang gurun dan dapat membentuk kita selama ujian kita.

1. Renungkan Firman Allah 

Tujuannya bukan hanya untuk mencentang daftar di jadwal; melainkan untuk membiarkan Firman Allah mengubah kita. Yesus menanggapi setiap pencobaan dengan Firman Allah. Dia tidak hanya membaca dan melupakannya; Dia merenungkannya, menginternalisasikannya, dan membiarkan Allah menopang-Nya melalui Firman-Nya.

2. Percayalah pada Karakter Allah

Yesus memilih penyerahan diri daripada hal-hal yang spektakuler. Dia tidak menguji Allah; Dia mempercayai-Nya. Ketika rencana kita dan rencana Allah terlihat berbeda, kita dapat memilih untuk mengendalikan hidup atau mempercayai Allah dan apa yang Dia rencanakan untuk kita,

3. Terimalah Kesulitan 

Ada cerita menarik tentang Biosphere 2 di Tucson dekat Universitas Arizona. Para ilmuwan menciptakan versi miniatur planet kita untuk mempelajari bagaimana sistem kehidupan planet bekerja. Di biosphere, pohon-pohon tumbuh lebih cepat daripada di alam liar, tetapi tidak pernah benar-benar matang. Sebelum pohon-pohon itu matang, mereka akan roboh. Kemudian, para ilmuwan menemukan alasan mengapa pohon-pohon itu roboh—kurangnya angin di dalam biosfer. Angin memainkan peran penting dalam kehidupan pohon. Kehadiran angin membuat pohon menjadi lebih kuat, memungkinkan pohon untuk matang dan menahan beratnya sendiri.

Ketika tanaman dan pohon tumbuh di alam liar, angin membuatnya bergerak. Angin ini menimbulkan tekanan pada struktur kayu penopang pohon. Untuk mengimbanginya, pohon tumbuh sesuatu yang disebut “reaksi kayu” atau “kayu tertekan.” Kayu yang tertekan ini memiliki struktur yang berbeda dan dapat menempatkan pohon di posisi yang mendapatkan cahaya terbaik atau sumber daya optimal lainnya. Tanpa angin, pohon-pohon mati!Demikian pula, kesulitan yang kita hadapi memperkuat kita dengan cara yang tidak pernah bisa dilakukan oleh kenyamanan.

Pendeta John Ortberg pernah menulis: “Jika Anda bertanya kepada orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan mengapa mereka tidak percaya, alasan utama mereka adalah penderitaan. Jika Anda bertanya kepada orang-orang yang percaya pada Tuhan kapankah mereka paling bertumbuh secara rohani, jawaban utama mereka adalah penderitaan. “Hubungan saya dengan Tuhan tidak pernah lebih kuat daripada saat saya melewati masa sulit itu.” 

Saya berdoa agar Anda menyerahkan diri pada pembentukan yang Tuhan inginkan di tengah angin pencobaan dan bersiap untuk Tuhan menggunakan pencobaan saat Anda memilih dan mengejar arah yang benar. 

Pertanyaan Refleksi:

  • Ketika kesusahan menghilangkan kemampuan kita untuk “berprestasi” atau “mencapai sesuatu,” kita dihadapkan pada pertanyaan krusial: Apakah kasih Allah cukup? Bisakah kita menemukan jati diri kita dalam dicintai oleh Allah daripada menjadi berguna bagi orang lain?
  • Bagaimana jika hal yang Anda minta Tuhan singkirkan dari hidup Anda justru Dia gunakan untuk membuat Anda lebih menyerupai Yesus? Bagaimana jika angin cobaan sedang menguatkan dan mempersiapkan Anda untuk apa yang akan datang? 

Sumber: Formed By The Wind: Choosing Your True North, oleh Scott Savage, dari Bible App.