Berbicara tentang Merawat Spiritualitas, saya teringat tanaman yang ada di rumah kami. Biasanya setiap liburan panjang kami meluangkan waktu mengunjungi orang tua/keluarga beberapa hari. Mengunjungi keluarga adalah momen yang menyenangkan, tetapi setiap pulang liburan, hati kami agak sedih melihat kondisi tanaman hias dan tanaman obat yang kami rawat dengan hati-hati. Hanya dalam kurun beberapa hari telah berubah kering bahkan tidak sedikit yang mati. Meski sebelum berangkat liburan kami menyiram tanaman dengan banyak air dan menaruh botol berisi air di sisi tanaman untuk menjaga tanah tetap lembab, rupanya upaya tersebut tidaklah cukup. Ditinggal beberapa hari tanpa perawatan, teriknya sinar matahari, tidak cukupnya asupan air, ditambah gulma membuat tanaman ini tidak mampu bertahan hidup. Demikian pula kehidupan spiritual kita hampir sama seperti tanaman. Tanpa perawatan, perhatian dan asupan ‘nutrisi’ yang memadai, kerohanian kita akan sangat mudah menjadi kering dan mati.
Alkitab banyak menekankan pentingnya merawat kehidupan spiritual kita. Musa sebelum kematiannya menasihati bangsa Israel dalam Ulangan 4:9, “Only, be on guard for yourself and keep your soul carefully” (Perhatikanlah dirimu dan rawatlah jiwamu dengan baik — Terjemahan bebas). Musa menekankan pentingnya memperhatikan diri dan merawat jiwa. Jiwa berbicara tentang keberadaan hidup seutuhnya termasuk inner life/kehidupan batiniah kita. Musa sadar bahwa jiwa yang sehat akan memengaruhi seluruh kehidupan. Salomo, raja yg dikenal paling bijak juga berkata hal yang sama, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Bahkan Yesus selama hidup di dunia mengajarkan betapa pentingnya merawat jiwa. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan jiwaNya” (Terjemahan bebas, Markus 8:36).
Bagaimana merawat kehidupan batiniah kita? Berikut saya akan berbagi beberapa hal yang akan menolong perawatan jiwa kita:
- Master Care
Sering kita berpikir bahwa merawat spiritualitas adalah melulu tanggung jawab kita. Akibatnya, saat mengalami kekeringan rohani seperti meragukan Tuhan dan jatuh dalam kebiasaan dosa lama, kita menjadi terpuruk menyalahkan diri yang kurang cakap menjaga diri. Ini hal yang berbahaya karena fokus kita bukan lagi Tuhan, melainkan diri sendiri. Sesungguhnya, Roh Kudus memainkan peran penting dalam perawatan jiwa kita. Dallas Willard dalam “Triangle of Christlikeness”, mengatakan bahwa pribadi yang berperan utama dalam pertumbuhan rohani kita adalah Roh Kudus. Roh Kuduslah yang secara aktif bekerja di dalam diri orang percaya untuk mengubah batin, membentuk karakter menjadi serupa dengan Kristus. Tentu ini tidak berarti transformasi kehidupan batin adalah proses yang pasif dan sepihak, ini sangat melibatkan interaksi yang dinamis antara Roh Kudus dan diri kita. Namun, kita sering melupakan kebenaran bahwa ada Sang Master yang bekerja dan berjalan bersama kita. Mengetahui bahwa Allah sangat peduli dan turut berkerja dalam kehidupan spiritual kita, membuat kita lebih tenang dalam menjalani journey ini.
2. Disiplin berhenti
Salah satu tantangan terbesar dalam spiritualitas kita adalah kesibukan. Corrie Ten Boom pernah berkata “Jika iblis tidak dapat membuat Anda berdosa, dia akan membuat Anda sibuk”. Sibuk adalah kondisi jiwa di mana kita begitu sibuk/penuh dengan berbagai hal sehingga tidak dapat hadir sepenuhnya di hadapan Tuhan, diri sendiri atau orang lain. Kesibukan secara perlahan dapat menggerus hidup rohani kita. Untuk itulah kita perlu belajar berhenti atau slow down.
Yesus walaupun memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar, Dia selalu meluangkan waktu untuk berhenti dan bersekutu dengan Bapa-Nya. Lukas 5:16 mengatakan, “However, he continued his habit of retiring to deserted places and praying (ISV) (Namun, ia tetap melakukan kebiasaan-Nya untuk menyendiri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa). Rupanya berhenti untuk bersekutu dengan Bapa adalah sebuah kebiasaan yang dibangun oleh Yesus selama Dia ada di dunia ini.
Bagaimana kita bisa berhenti di tengah kesibukan hidup? Tony Horsfall dalam bukunya Ritme Anugerah memberikan beberapa saran praktis: “Berhentilah setiap hari selama beberapa saat, Berhenti setiap minggu selama beberapa jam, Berhenti dua, tiga kali setahun selama beberapa hari. Untuk mengingat kembali: Siapakah Tuhanku? Siapakah aku sendiri? Aku di sini untuk apa? Untuk menerima kekuatan bagi bagian perjalananku berikutnya.” Kita berhenti bukan karena pekerjaan sudah selesai, kita berhenti karena Allah meneladankannya dan kita membutuhkannya.
3. Merenungkan Firman Tuhan (Meditation)
Firman Tuhan adalah bagian yang sangat krusial dalam formasi rohani. Paulus menekankan bahwa Firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran ( 2Tim. 3:16-17). Perenungan Firman Tuhan menolong kita mengenali kebohongan dan kebiasaan dosa sekaligus membersihkan dan membaharuinya. Kebenaran Firman ‘Menggantikan’ konsep-konsep keliru tentang Tuhan, diri sendiri, orang lain yang acap kali menggerus kehidupan spiritualitas kita. John Mark Comer dalam bukunya Practicing the Way berkata: “Narasi salah dan kebiasaan dosa dalam hidup kita dapat diubahkan melalui perenungan yang dalam akan kebenaran Firman Tuhan.”
Dunia kita menuntut semua yang serba instan dan cepat. Saat membaca Alkitab kita juga ingin instan dan cepat mendapatkan pesan yang kita inginkan. Namun, Alkitab mengajar kita untuk meditate/merenungkan Firman. Merenungkan berarti membaca Alkitab dengan lambat, penuh doa, dan reflektif dengan tujuan transformasi, bukan sekadar mendapat informasi. Bagaimana kita melakukannya? Berikut beberapa langkah praktisnya.
- Sediakan waktu khusus
- Pilihlah satu perikop Alkitab
- Bacalah ayat-ayat tersebut secara perlahan untuk diri Anda beberapa kali.
- Dengarkan kata atau frasa yang menarik perhatian Anda. Biarkan kata itu meresap ke dalam hati dan pikiran Anda.
- Saat terfokus pada kata atau frasa tertentu, perhatikan apa gambaran, pikiran dan perasaan yang muncul. Setelah itu, ambillah waktu tenang.
- Catatlah pengalaman Anda.
- Hafal kata atau frasa dan upayakan merenungkannya sepanjang hari.
- Bagikan apa yang telah Anda pelajari dengan orang lain dan bertindaklah sesuai kata atau frasa tersebut.
Sebagai kesimpulan, spiritualitas kita sangat memerlukan perawatan. Kabar baiknya adalah kita tidak melakukannya sendirian, ada Tuhan yang berjalan Bersama kita dan Dia menyediakan sarana-sarana yang menolong kita yang tidak hanya untuk menolong, tetapi juga mentransformasi kita makin serupa dengan Kristus. Aturlah waktu untuk berhenti dan cintailah Firman-Nya!
Pertanyaan Refleksi:
- Bagaimana kondisi spiritualitas Anda akhir-akhir ini, dalam pengertian hubungan pribadi Anda dengan Yesus?
- Apakah Anda telah melakukan perawatan bagi spiritualitas Anda?
- Jika ya, apa yang telah Anda lakukan selama ini? Dan bagaimana hasilnya?
- Jika tidak, apa yang menjadi tantangan atau kesulitan Anda?
- Dari tiga cara merawat kehidupan spiritualitas: Master care, disiplin berhenti dan merenungkan firman; mana yang Anda hendak praktikkan sebagai bentuk perawatan spiritualitas Anda?
- Carilah seorang teman dan bagikan serta mintalah kesediaannya menjadi partner akuntabilitas untuk Anda menceritakan proses pelaksanaan komitmen Anda!
KC

