Buat saya, doodle adalah sebuah perjalanan dari kehilangan ke pengharapan. Saya tidak pernah menyangka bahwa garis-garis kecil dan pola sederhana bisa membawa saya pada pemulihan. Namun, itulah yang terjadi.
Beberapa waktu lalu, Mama saya berpulang ke rumah Bapa. Duka itu rasanya seperti badai yang tiba-tiba tanpa peringatan. Emosi saya bagaikan dirudung warna monokrom, gelap, sunyi dan menyesakkan. Setiap hari saya hidup dalam kesedihan yang menciptakan ruang yang kosong di dalam diri; entah mengapa, tidak ada kata-kata yang bisa mengisi dan menghibur saya.
Di tengah semua itu, pada suatu sore saat saya sedang scroll dan scroll Instagram, tanpa sengaja saya menemukan doodle art, coretan yang tidak ada artinya. Saya tidak mempunyai pola sendiri, saya hanya melihat bagaimana cara membuatnya dan ternyata saya bisa. Awalnya hanya sebuah kebiasaan sederhana yang saya lakukan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari sesuatu: ketika tangan saya bergerak, kecemasan yang biasanya saya rasakan mulai mereda, digantikan oleh irama garis, lengkungan, dan titik-titik yang muncul begitu saja; alhasil pikiran saya mulai tenang.



Saat saya duduk dengan spidol dan sketch book, saya sering memutar lagu-lagu penyembahan. Lagu-lagu penyembahan ini bukan sekadar latar belakang, melainkan pengingat bahwa saya tidak sendiri. Sekalipun saya kehilangan seorang ibu di dunia ini, ada kasih yang lebih besar yang terus menopangku. Dalam setiap goresan, saya seperti bicara dengan Tuhan; tidak saja lewat kata, tetapi lewat bentuk dan gerakan-gerakan tangan yang menggoreskan luapan hati. Doodle menjadi ruang aman—tempat saya menangis tanpa air mata, berdoa tanpa suara; aktivitas yang menjadi tempat perjumpaan dengan diri dan Tuhan; hati saya pulih dari duka secara perlahan-lahan.



Kini, saya rutin melakukan doodle art. Bukan karena ingin menjadi seniman hebat, melainkan karena saya ingin tetap hidup. Karena di antara garis-garis itu, saya menemukan bagian dari diri saya yang sempat hilang, yaitu kreativitas. Saya belajar bahwa kreativitas bukan hanya tentang membuat hal indah, melainkan juga tentang menyusun kembali hati yang hancur—satu goresan demi goresan dalam satu waktu.
Jika teman-teman juga sedang kehilangan, sedang gelisah, sedang bertanya-tanya apakah teman teman akan baik-baik saja—saya ingin teman teman tahu: mungkin teman teman tidak akan langsung pulih. Namun, teman-teman bisa mulai membuat doodle. Dan mungkin seperti saya, teman teman akan menemukan Tuhan yang membantumu bernapas lagi.
Doodle bukan soal “bisa gambar atau tidak.” Ini soal membiarkan tangan bicara saat mulut tak sanggup berkata-kata. Jika teman-teman merasa ingin mencoba, tetapi tak tahu harus mulai dari mana, silakan cari di Instagram atau mungkin mulai dengan cara sederhana pada awal perjalanan ini:
- Pakai kertas kosong dan pena hitam sederhana. Jangan pikirkan hasilnya bagus atau tidak.
- Biarkan tanganmu bergerak sesuka hati—garis-garis, lingkaran, zig-zag, atau apa pun yang muncul dari hatimu. Tidak ada salah atau benar dalam doodle.
- Memutar musik/lagu. Bagi saya, lagu penyembahan adalah teman sejati saat doodling. Lirik-lirik yang penuh pengharapan mengalir masuk, memberi makna pada setiap goresan. Bisa pilih musik yang menenangkan atau membantu mendekatkan kita dengan Tuhan.
Izinkan saya berbagi tips sederhana ini, biarkan setiap “kesalahan” menjadi bagian dari cerita. Dalam doodle, setiap garis yang keluar dari jalur tetap punya tempatnya. Sama seperti hidup—tak selalu rapi, tetapi tetap indah saat kita melihatnya dengan hati.
Akhir kata, doodle mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi bagi saya, ini adalah bahasa rahasia hati saya—rasa kehilangan dan harapan. Jika kita membiarkan tangan kita bercerita, kita akan terkejut dengan apa yang muncul—bukan hanya gambar, melainkan juga perasaan yang terungkap dan luka yang mulai pulih.
Mari mencoba! Jika Anda ingin mulai, jangan tunggu jadi ahli. Mulailah sekarang juga!
Tuhan Memberkati,
AW

