Pernahkah Anda berada pada keadaan yang sulit untuk mempercayai Allah? Anda seperti telah melakukan perjalanan yang jauh tetapi kemudian kehilangan arah. Rintangan dalam perjalanan bukan lagi menjadi tantangan untuk melanjutkan perjalanan bersama-Nya tetapi justru melemahkan semangat Anda. Langkah Anda mulai terasa berat dan melelahkan. Anda merasa berjalan sendirian dan tanpa dorongan yang cukup untuk melanjutkan perjalanan. Namun Anda terus berjalan meskipun dengan langkah yang lambat.

Anda menjadi ragu dengan apa yang Anda mengerti selama ini tentang Allah. Allah yang seharusnya mengenal Anda, mengetahui apa yang Anda inginkan, dan mengetahui apa yang terjadi pada Anda. Tetapi sekarang Allah sepertinya mengizinkan Anda menghadapi berbagai rintangan yang sulit. Allah mungkin telah berbuat kesalahan dengan menempatkan Anda pada rute perjalanan yang sekarang sedang Anda tempuh. Anda merasa telah ditinggalkan Allah. Allah yang Anda harapkan selalu ada, sekarang tiba-tiba meninggalkan, membisu dan seakan tidak sanggup melakukan sesuatu untuk menolong Anda.

Benarkah Allah telah meninggalkan Anda?

Allah tidak pernah sungguh-sungguh ingin meninggalkan Anda. Tetapi oleh karena kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia yang senantiasa membutuhkan pengampunan Allah, kita sering gagal menyadari akan keberadaan Allah dalam perjalanan hidup kita.

Hal ini dialami juga oleh murid-murid. Kisah ini terdapat pada Markus 4:35-41. Murid-murid bersama Yesus ketika Ia melakukan perjalanan keliling di wilayah Galilea dan daerah-daerah di sekitarnya. Murid-murid menyaksikan Yesus menyembuhkan orang banyak, mengusir setan, dan mengajar tentang Kerajaan Allah. Mereka tidak keberatan ketika diajak Yesus untuk bertolak ke seberang. Mungkin saja waktu itu, murid-murid beranggapan bahwa perjalanan mereka akan baik-baik saja bersama Yesus, orang yang telah terbukti kehebatan-Nya. Tetapi ternyata yang terjadi tidak demikian. Pada saat angin taufan mengamuk sangat dahsyat, justru mereka seperti menyalahkan Yesus.

Matthew Henry menyatakan bahwa: ucapan murid-murid kepada Kristus diungkapkan dengan sangat tegas di sini, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Jelas bagi saya ungkapan ini terdengar agak kasar, lebih menyerupai teguran mereka terhadap-Nya karena tidur daripada permohonan mereka agar Dia bangun. Saya tidak melihat alasan untuk sikap ini selain bahwa karena mereka ini sudah dibuat oleh-Nya menjadi sangat akrab dengan Dia, menjadi bebas bergaul, dan ditambah lagi dengan kepanikan mereka dalam keadaan itu, akhirnya mereka tidak sadar mengenai apa yang mereka katakan. Mereka menyalahkan Kristus dengan menuduh bahwa Ia tidak peduli akan umat-Nya yang sedang mengalami kesusahan.

Tuduhan murid-murid itu kemudian menjadi berbalik arah oleh karena pertanyaan Yesus kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Dengan pertanyaan ini Yesus seperti ingin mengatakan bahwa tuduhan mereka tidak benar. Murid-murid telah mencurigai Yesus. Kecurigaan itu muncul karena perasaan yang begitu takut. Ketakutan itu telah melemahkan keyakinan mereka terhadap kuasa Yesus yang baru saja mendemonstrasikan mukjizat dan memberitakan tentang Kerajaan Allah kepada orang banyak di hadapan mereka.

Dalam kisah di atas, Anda dapat melihat bahwa apa yang ditakutkan murid-murid tidak terjadi. Yesus yang penuh kasih telah membuktikan kepedulian-Nya akan keselamatan semua orang yang sedang menyeberangi danau itu. Ia tidak membiarkan seorang pun binasa. Yesus juga membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa terhadap alam semesta.

Bagaimana kita sampai berada pada keadaan yang sulit untuk mempercayai Allah?       

Kita telah mengetahui kebenaran tentang Allah. Tetapi kita sering melakukan hal serupa dengan murid-murid Yesus pada kisah di atas. Kita menggantungkan harapan-harapan besar kepada Allah karena kita tahu bahwa Ia adalah Allah yang kasih dan berkuasa. Tetapi kita kurang menambahkan pada iman kita kesadaran akan kedaulatan Allah. Kita justru menambahkan sendiri beban-beban dalam perjalanan hidup kita. Sehingga seringkali kita diperhadapkan pada kenyataan bahwa usaha kita tidak pernah cukup untuk meraih semua harapan itu.

James Bryan Smith dalam bab 4 bukunya yang berjudul The Good and Beautiful Life mengatakan bahwa harapan yang tidak tercapai ditambah dengan ketakutan merupakan alasan untuk munculnya reaksi emosi yang besar yaitu kemarahan. Kemarahan memiliki sisi yang unik dan imperatif. Imperatif menyiratkan perintah dan kontrol serta mengekspresikan kata-kata seperti harus, selalu, dan tidak pernah. Dimana kontrol adalah solusi yang kita anggap dapat mengurangi ketakutan. Jika kita tidak memegang kontrol maka segala sesuatu akan berjalan dengan buruk dan kita akan kehilangan segala sesuatu. Kebutuhan untuk mengontrol ini membuat kita beralih pada kekuatan kita sendiri bukan berdasarkan kekuatan Allah.

Kita perlu mewaspadai hal tersebut, karena sekalipun kita mengetahui kebenaran tentang Allah tetapi ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan, kita bisa rentan terhadap kemarahan. Kemarahan inilah yang dapat menghalangi kita untuk menyadari dan mengalami Allah dalam perjalanan hidup kita. Kita mulai kehilangan arah dan kelelahan karena kita tidak lagi melibatkan Allah dalam setiap bagian hidup kita.

Allah memberi ruang untuk kita membuat pilihan dan mengambil keputusan dalam hidup kita. Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan kita, Ia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi tanpa alasan untuk mengubahnya menjadi kebaikan bagi hidup kita.

Kutipan diambil dari:

Sabda, Commentary. http://alkitab.sabda.org/verse_commentary.php?book=41&chapter=4&verse=38

Smith, James B. The Good and Beautiful Life-Kehidupan yang Baik dan Indah (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2014).

 

Bandung, April 2017

(R)